Wabah Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga. Tidak terkecuali industri dana pensiun di Indonesia. Seperti datangnya tidak terduga, masa berakhirnya Covid-19 di Indonesia pun tidak ada yang tahu. Kebijakan dan atensi pun terus dijalankan, termasuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang berujung pelarangan mudik. Ekonomi lesu an kini tidak kurang 2 juta pekerja dirumahkan atau di-PHK. Maka siapapun, perlu introspeksi diri. Untuk selalu siap antisipasi dan selalu punya harapan ke depannya.

 

Dampak Covid-19 yang patut dicermati, maka diperkirakan di tahun 2020 ini ekonomi global turun -3% akibat adanya lockdown besar-besaran. Sementara ekonomi Indonesia diprediksi hanya tumbuh 0.5%. Secara umum pasar akan pulih dalam jangka waktu menengah/panjang.  Begitulah simpulan acara “WFH Webinar Pension #1 Series” yang digelar Perkumpulan DPLK (Dana Penisun Lembaga Keuangan) dan ADPI (Asosiasi Dana Pensiun Indonesia) hari ini (4/05/20) melalui Zoom Video Conference yang diikuti 320 peserta. Tema yang dipilih “Antisipasi Dampak & Harapan Industri Dana Pensiun Pasca Covid-19”.

 

Seminar daring pertama industri dana pensiun ini dibuka oleh Nur Hasan Kurniawan (Ketua PDPLK) dan Suheri Lubis (Ketua ADPI). Dengan opening speech disampaikan oleh M. Ikhsanuddin (Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK)  dan pembicara terdiri dari; 1) Alan T. Darmawan, CEO Eastspring Investments, 2) Mudjiharno, Dapen BRI pelaku Dana Pensiun PPMP, dan 3) Saktimaya Murti, DPLK BNI pelaku DPLK PPIP. 

“Saya apresiasi acara webinar pension ini. Sangat bagus dan bisa jadi informasi yang bergunan. Intinya di tengah wabah Covid-19 ini, memang kita mengalami pelambatan. Tapi semua dampaknya harus diantisipasi dan harapan ke depan pasti ada. Di balik keulitan pasti ada kemudahan” ujar M. Ikhsanuddin saat memberikan opening speech.

Dimoderatori oleh Syarifudin Yunus (Direktur Eksekutif PDPLK), webinar pension ini menegaskan industri dana pensiun di Indonesia tetap peduli dan terus berkonsolidasi untuk mengantisipasi dampak wabah Covid-19, di samping bersama-sama membangun harapan ke depan yang lebih baik pasca wabah Covid-19 usai di Indonesia.

  

Maka Mudjiharno, Dirut Dapen BRI menegaskan salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengelola likuiditas secara prudent agar dana pension dapat memenuhi kewajiban dalam 6-12 bulan ke depan dan menunda Capex yang berdampak langusng terhadap pendapatan. 

 

Di sisi lain, Saktimaya Murti, PLT DPLK BNI menyampaikan potensi pasar dana pension masih sangat besar. Untuk itu, industri DPLK khusunya harus tetap optimis dan regulator perlu memberikan relaksasi seperti investasi maksimal 20% perpihak atau threshold pajak pensiun dinaikan dari >50jt menjadi >200jt. 

 

Di penghujung webinar pension, Andra Sapta (Direktur Pengawasan Dana Pensiun IKNB OJK) menegaskan bahw pentingnya pelaku dana pension untuk mengkalkulasi risiko akibat wabah Covid-19, di samping perlu evaluasi terhadap tata kelola yang selama ini dilakukan. Hal ini pula diperkuat oleh Steven Tanner (aktuaris independen) yang menyatakan wabah Covid-19 ini bisa jadi momentum untuk meningkatkan pelayanan terbaik pelaku DPLK kepada peserta sambil melihat portofolio investasi nasabah seperti apa?

 

Wabah Covid-19 memang tidak terduga. Tapi Langkah antisipasi harus tetap dilakukan. Harapan pun harus terus dibangun. Karena cepat atau lambat, badai pasti berlalu. Itulah komitmen industru dana pensiun…. #YukSiapkanPensiun

Dalam rangka pengisian jabatan Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan, kami mengundang seluruh warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti:

“Seleksi Calon Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan Periode 2020 – 2023 ”

Informasi dan dokumen selengkapnya dapat di dilihat pada brosur ini. Terima kasih.

Dalam rangka pengisian jabatan Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan, kami mengundang seluruh warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti:

“Seleksi Calon Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan Periode 2020 – 2023 ”

Informasi dan dokumen selengkapnya dapat di dilihat pada brosur ini. Terima kasih.

Oleh: Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun Asosiasi DPLK

 

Kenapa Anda perlu merencanakan masa pensiun?

Tentu, ada banyak argumen untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi faktanya, 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun. Bahkan 93% pekerja menyatakan tidak tahu akan seperti apa di masa pensiun. Alhasil di Indonesia, riset menunjukkan 73% pensiunan mengalami masalah keuangan. Realitas pensiunan di Indonesia semacam itu terjadi. Akibat tidak adanya perencanaan masa pensiun para pekerja.

 

Hampir semua orang yang berpendidikan tinggi, pasti ujung-ujungnya ingin bekerja. Bekerja dari level rendah hingga mencapai karier puncaknya. Puluhan tahun waktu dihabiskan untuk bekerja. Sambil menikmati upah yang diterima setiap bulan. Tapi kenyataannya, riset membuktikan hanya 9% pensiunan alias pekerja yang benar-benar sejahtera di masa pensiun. Sementara 91% lainnya, masih tetap bekerja di usia pensiun atau menggantungkan hidupnya di hari tua pada anak-anaknya.

 

Good worker harus tahu. Bahwa di Indonesia saat ini. Usia harapan hidup orang Indonesia telah beranjak menjadi 72 tahun. Artinya apa? Bila seseorang pekerja pensiun di usia 55 tahun, maka masih ada 17 tahun masa kehidupan setelah pensiun.  Sementara indeks biaya hidup di masa pensiun mencapai 70%-80% dari gaji terakhir. Itu berarti, bila gaji terakhir Rp. 10.000.000 maka tingkat penghasilan pensiun (TPP) yang dibutuhkan di hari tua berkisar di antara Rp. 7.000.000 s.d. Rp. 8.000.000 per bulan. Bila keadaannya sudah tidak bekerja lagi, maka dari mana uang yang dibutuhkan di masa pensiun itu diperoleh? 

 

Maka suka tidak suka, siapapun orangnya, perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba. Jangan sampai masa bekerja jaya tapi masa pensiun merana. 

 

"Urusan pensiun mah nanti saja, kan gaji yang ada hanya cukup untuk biaya hidup” begitu kata seorang pekerja. Tapi ada pekerja yang lain bilang "saya menyesal sekarang, karena dulu saat bekerja tidak mau menabung untuk masa pensiun?" Itulah kenyataannya, masa pensiun kadang seperti “buah simalakama”. Di satu sisi, gaji sering habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pensiunan yang menyesal karena lalai merencanakan masa pensiun yang sejahtera. Intinya, setiap pekerja harus punya sikap terhadap masa pensiunnya sendiri. Mau seperti apa, kau kayak apa?

 

Lalu, bagaimana cara jitu merencanakan masa pensiun?

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Karena DPLK merupakan program pengelolaan dana pensiun yang dirancang untuk mempersiapkan jaminan finansial di masa pensiun. Program yang didedikasikan untuk pembayaran manfaat pensiun bagi setiap pekerja. Melalui DPLK, setiap pekerja dapat menyetorkan sejumlah uang secara rutin setiap bulan. Sebagai perencanaan masa pensiun dan hanya dapat dicairkan ketika memasuki usia pensiun.

 

DPLK, tentu bukan asuransi jiwa. DPLK pun bukan reksadana. Tapi intinya, DPLK dirancang untuk menyiapkan masa pensiun yang sejahtera. Karena DPLK bertumpu pada pengelolaan program pensiun iuran pasti (PPIP) dan orientasinya untuk hari tua atau masa pensiun. Agar tersedia dana yang cukup untuk membiayai pensiunan di hari tuanya, di saat tidak bekerja lagi.

 

Ada tiga manfaat DPLK yang luar biasa sebagai program pensiun, yaitu: 

1. Ada pendanaan yang pasti untuk masa pensiun melalui iuran yang disetor secara bulanan, tentu semakin besar iurannya semakin optimal uang pensiunnya.

2. Ada hasil investasi yang diperoleh selama menjadi peserta DPLK sehingga dana berkembang secara optimal karena bersifat jangka panjang.

3. Ada fasilitas perpajakan yang diperoleh saat manfaat pensiun dibayarkan ketika pensiun, yang tidak diperoleh bila tidak melalui DPLK.

 

Maka melalui DPLK, setiap pekerja akan dapat memperoleh manfaat pensiun yang luar biasa. Besar kecilnya uang pensiun yang diterima dari DPLK sangat bergantung pada besarnya iuran yang disetorkan – hasil investasi – lamanya kepesertaan. Semakin lama menjadi peserta DPLK maka semakin besar manfaat pensiun yang diterima.

 

Jadi, sudahkah Adna merencanakan masa pensiun? 

Bila tidak sekarang, lalu kapan lagi? Kerja Yes, Pensiun Oke.

Di era digital yang kian transparan, nasabah apapun menuntut professionalisme dan layanan terbaik suatu produk. Tidak terkecuali produk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sebagai alternatif pendanaan untuk meraih masa pensiun yang sejahtera.

 

Maka untuk itu, Asosiasi DPLK pun telah menerapkan “Sertifikasi DPLK” yang ditujukan kepada para tenaga pemasar dan staf di unit kerja DPLK manapun, bank atau asuransi jiwa termasuk para mitra di bidang investasi, agen, maupun finance. Tujuannya, agar tercipta standar kompetensi tenaga pemasar dan staf dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pengelola dana pensiun lembaga keuangan. Untuk menjaga prinsip profesionalisme dan standar mutu layanan kepada nasabah. Agar nasabah tidak dirugikan di kemudian hari.

 

Berangkat dari spirit dan komitmen itulah, Asosiasi DPLK sebagai lembaga yang mengkoordinasikan 27 pelaku DPLK di Indonesiamenggelar “Ujian Sertifikasi DPLK” batch 8 yang diikuti 11 peserta dati 4 DPLK dan 1 konsultan pajak. Ujian berlangsung Classroom Asosiasi DPLK di Wisma Bumiputera Jakarta (24/1/2020). 

 

“Asosiasi DPLK menggelar ujian sertifikasi DPLK tiap 3 bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memacu standar kompetensi berupa pengetahuan, keterampilan dan keahlian para tenaga pemasar dan staf yang bekerja di unit bisnis DPLK. Agar mampu melayani secara professional para nasabah DPLK” ujar Syarifudin Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK.

 

Sertifikasi DPLK diselenggarakan secara rutin setiap bulan Januari-April-Juli-Oktober (4 kali setahun) yang dapat diikuti tenaga pemasar dan staf yang ada di unit bisnis DPLK atau pihak lain yang berhubungan dengan bisnis DPLK. Hingga saat ini, tidak kurang 300 orang telah tersertifikasi DPLK yang mencakup modul 1) pengetahuan dasar dan pemasaran, 2) operasional dan bisnis proses, 3) investasi, dan 4) regulasi dan risk.

 

Sertifikasi DPLK meruapakan impelmentasi prinsip perilaku profesional dan kompetensi anggota Asosiasi DPLK dalam menjalankan amanat POJK No.1/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, di samping memastkan berjalannya POJK 15/2019 tentang Tata Kelola Dana Pensiun. 

 

Sertifikasi DPLK sebagai bagian sertifikasi profesi tentu sangat penting. Agar tidak terjadi kesalahan dalam penualan DPLK, termasuk untuk mengotimalkan pengetahuan nasabah tentang manfaat DPLK itu sendiri. Karena hakikatnya, DPLK sangat penting sebagai bagian perencaaan masa pensiun yang sejahtera, saat tidak bekerja lagi. Karena dengan DPLK, setiap pekerja memiliki manfaat: 1) punya pendanaan yang pasti untuk hari tua, 2) memperoleh hasil investasi yang lumayan, dan 3) mendapat fasilitas perpajakan.

 

Untuk diketahui, hingga November 2019, industri DPLK telah mengelola aset lebih dari Rp 92 triliun dengan jumlah peserta mencapai 3,3 juta pekerja. Oleh karena itu, Asosiasi DPLK akan terus aktif melakukan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun, di samping menjadikan sertifikasi DPLK sebagai standar profesi. Agar masyarakat lebih mudah, lebih tertaik dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri …..

 

Dan pastikan, tenaga pemasar dan staf-nya yang bekerja di DPLK sudah tersertifikasi… #YukSiapkanPensiun #SertifikasiDPLK #AsosiasiDPLK

KAFE PENSIUN merupakan e-news Asosiasi DPLK yang terbit setiap 3 bulan sekali. Sebagai sarana untuk memberikan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun dan dana pensiun lembaga keuangan kepada masyarakat dan generasi milenial. Silakan mengirimkan berita, aktivitas dan foto terkait DPLK dan dana pensiun ke Redaksi KAFE PENSIUN via email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Oleh: Syarifudin Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK

Salah satu ciri generasi milenial di Indonesia adalah lebih suka menghabiskan uang untuk mendapat pengalaman tertentu. Dibandikan menabung atau menambah aset. Intinya, generasi milenial lebih memilih jalan-jalan daripada menabung.

 

Untuk membuktikannya, saya melakukan survei sederhana. Pada 80 milenial di Jabodetabek. Dan hasilnya menyebutkan "86 persen generasi milenial tidak punya program pensiun". 

 

Artinya, generasi milenial tidak punya persiapan yang cukup untuk memasuki masa pensiun. Mungkin, karena mereka berpikir masih muda dan tidak perlu buru-buru menyiapkan masa pensiun.

 

Generasi milenial kadang lupa, masa pensiun itu bukan soal waktu. Tapi soal keadaan. Jadi cepat atau lambat, keadaan masa pensiun harusnya dipersiapkan sejak dini. Karena bila tidak, maka masa muda berjaya masa tua merana.

 

Siapa generasi milenial itu?

Bila indikator generasi milenial adalah mereka yang dilahirkan pada rentang tahun 1980-an hingga 2000-an. Maka generasi milenial adalah mereka yang kini berusia 17 hingga 38 tahun. Menurut BPS, jumlah generasi milenial mencapai 24% dari total populasi Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa. Itu berarti, ada 63,6 juta generasi milenial per tahun 2018. Di tahun 2020 ini, tentu akan meningkat jumlahnya.

Bila seperempat penduduk Indonesia adalah milenial dan mereka tidak punya program pensiun, Maka apa yang bisa diperbuat bangsa Indonesia pada saat generasi milenial menua alias tidak bekerja lagi?

 

Sungguh, tidak satupun kita yang ingin hidup sengsara di masa depan, di hari tua.

Semua orang ingin hidup layak dan sejahtera di kala pensiun. Semua orang ingin gaya hidupnya tetap terpelihara sekalipun sudah tidak bekerja lagi. Dan semua orang, ingin punya standar hidup yang lebih baik di masa pensiun. Masa depan, masa pensiun memang harus dimulai dari sekarang. Termasuk bagi generasi milenial.

 

Tapi sayangnya, tidak banyak orang yang mau dan peduli mempersiapkan masa pensiunnya. Mereka getol saat bekerja tapi lalai menyiapkan masa pensiun. Maka wajar, 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun. Mereka seakan ingin terus bekerja, dan mungkin ingin hidup selamanya.

 

Adalah fakta, 73 dari 100 orang pensiunan di Indonesia saat ini hidupnya bergantung kepada orang lain. Bisa anak-anaknya, bisa keluarganya. Hal ini terjadi semata-mata karena para pensiunan "tidak punya dana" yang cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya.

 

Mereka "tidak berhasil" dalam menyiapkan ketersediaaan dana untuk masa pensiun. Mungkin bila ditanya, mereka pun menyesal tidak menabung untuk program pensiun di saat bekerja.

 

86% generasi milenial tidak punya program pensiun, kok bisa?

Karena generasi milenial lebih doytan pada gaya hidup. Nongkrong di kafe, no life no gadget, fashionable. Hidupnya serba konsumtif bahkan cenderung hedonis.. Sebuah konsekuensi mahal dari gaya hidup yang serba cepat dan instan. Maka dalam kondisi ini, edukasi pentingnya dana pensiun harus lebih aktif dan masif dilakukan untuk generasi milenial.

 

Mungkin, generasi milenial merasa sudah punya JHT dari BPJS atau Jaminan Pensiun (JP).

BPJS Ketenagakerjaan itu program wajib. Namun nilainya tidak cukup karena hanya bersifat dasar. Karena program wajib hanya memenuhi 30% dari tingkat penghasilan pensiun (TPP) seseorang.

 

TPP itu bila milenial bergaji Rp. 10 juta ketika pensiun. Maka si milenial butuh Rp. 7-8 juta per bulan. Agar bisa membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara program wajib, diperkirakan hanya bisa meng-cover Rp. 3 juta saja. Lalu, dari mana sisa dana yang dibutuhkan milenial di masa pensiun?

 

Kerja oke tapi pensiun belum tentu oke, begitu kira-kira spirit generasi milenial. 

 

Lebih baik bergaya di saat bekerja. Tapi belum tentu sejahtera di masa pensiun. Milenial hampir lupa, bahwa siapapun pasti akan berhenti bekerja. Entah, karena pensiun atau sebab lainnya. Lalu, bekal apa yang sudah disiapkan untuk masa pensiun? Lagi-lagi, mereka hanya bisa "merenung" sekarang, lalu besok menyesalinya.

 

Sungguh faktanya, banyak orang tidak siap pensiun. Banyak pekerja khawatir akan hari tua itu fakta. Maka kini saatnya, memulai merencanakan masa pensiun sejak dini. Mumpung belum terlambat, agar tidak menyesal di hari tua.

 

Maka dari itu, milenial bisa mengikuti program pensiun dari sekarang. Karena "tomorrow starts today"… #LiterasiDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #AsosiasiDPLK

Asosiasi DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) hari ini mengumumkan Susunan Pengurus Periode 2019-2023. Dengan tekad optimalkan masyarakat dan pekerja agar melek dana pensiun. Sehingga memahami manfaat pentingnya dana pensiun. Karena saat ini, tidak lebih dari 6% pekerja di Indonesia yang baru memiliki program dana pensiun.

 

Ketua Umum Asosiasi DPLK, Nur Hasan Kurniawan menetapkan pengurus berkekuatan 24 orang, dengan 3 (tiga) Wakil Ketua Umum yaitu: 1) Rista Manurung bidang Regulasi & Kepatuhan, Produk & Manajemen Risiko, Syariah, 2) Daneth Fitrianto di bidang Aktuaria, Pajak Investasi; Operasional & Perlindungan Konsumen, dan SDM & Pengembangan Kompetensi, dan 3) Saktimaya Murti di bidang Literasi & Pengembangan Distribusi serta Kerjasama Antar Lembaga. Sementara secara organisasi kesekretariatan, Asosiasi DPLK yang dipimpin oleh Direktur Eksekutif, Syarifudin Yunus.

 

Perlu diketahui, aset Industri DPLK  per November 2019 tumbuh 11% dibandingkan Desember 2018 atau mencapai Rp. 92 trilyun. Melalui capaian ini, industri DPLK di Indonesia optimis pada tahun 2020 dapat meningkatkan kepesertaan program DPLK bagi pekerja dan pemberi kerja, yang kini berjumlah 3,35 juta peserta. Optimisme ini pun didukung oleh terbentuknya Pengurus baru Asosiasi DPLK periode 2019-2023 hari ini.

 

“Sekalipun penuh tantangan, industri DPLK bisa melewati tahun 2019 dengan pertumbuhan asset 11%. Aset yang dikelola industri DPLK mencapai Rp. 92 trilyun. Dengan terbentuknya Pengurus Asosiasi DPLK yang baru ini, kami harapkan bisa mendorong pertumbuhan DPLK yang lebih signifikan ke depannya” ujar Nur Hasan Kurniawan, Ketua Umum Asosiasi DPLK.

 

Saat ini peserta DPLK merupakan 70% dari total Peserta Dana Pensiun di Indonesia. Untuk itu, spirit Asosiasi DPLK ke depan adalah 1) Koordinasi mencakup penguatan industri DPLK, hubungan antar lembaga, dan penguatan internal Asosiasi DPLK,2) Komunikasi, mencakup literasi dana pensiun, perluasan kanal distribusi, mikro pensiun, dan literasi investasi, dan 3) Ekspansi, mencakup digital pension, pension for millennials, dan pendirian DPLK baru.

 

Mengingat peluang yang masih sangat besar, maka Asosiasi DPLK ke depan akan memfokuskan pada edukasi dan literasi dana pensiun untuk meningkatkan kepesertaan DPLK. Agar terwujdu masa pensiun ang sejahtera.

 

SUSUNAN PENGURUS ASOSIASI DPLK Periode 2019-2023

Dewan Pengawas:

  1. Adi Purnomo
  2. Steven Tanner
  3. A.T. Sitorus

 

Dewan Penasehat:

  1. Abdul Rachman
  2. Sainthan

 

Pengurus:

Ketua Umum                  : Nur Hasan Kurniawan

Direktur Eksekutif          : Syarifudin Yunus

Bendahara                      : - Ibrahim

                                               - Septiana Anggraini

Lembaga Sertifikasi/      : Mielanita Wulansari

Program Kerja                                   

 

Wakil Ketua 1 – Regulasi, Produk, & Manajemen Risiko     : Rista Manurung

Kabid Regulasi dan Kepatuhan           : Debby Purba

Anggota                                               : -D.P. Gigih Prakoso

                                                              -Fitriyana Maya

Kabid Produk & Manajemen Risiko    : Karjadi Pranoto

Anggota                                               : Nimas Tri Handayani

Kabid Pengembangan DPLK Syariah   : Sulistyowati

 

Wakil Ketua 2 – Investasi, Pajak, Konsumen & SDM           : Daneth Fitrianto

Kabid Aktuaria, Pajak & Investasi       : Firmansyah

Anggota                                               : Syaiful

Kabid Operasional & Perlindungan

Konsumen                                           : Yoppy Indradi

Anggota                                               : Yulinda

Kabid Sumber Daya Manusia  & Pengembangan

Kompetensi                                         : Angelina Agustine Christine

Anggota                                               : Helmi Djafar

 

Wakit Ketua 3 – Literasi DPLK & Kerjasama Antar Lembaga: Saktimaya Murti

Kabid Literasi & Pengembangan

Kanal Distribusi                                   : Ira Irmalia Sjam

Anggota                                               : Ade Irti Ariyani

Kabid Kerjasama Antar Lembaga       : Jasnova Varia

Anggota                                               : Uke Giri Utama

Page 1 of 2
Hubungi Kami
Wisma Bumiputera, 2nd Floor, Suite 205 Jl. Jend. Sudirman Kav. 75
DKI Jakarta 12910
Indonesia
Phone: 021 - 5713007
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Tentang Kami

  • Sejarah Singkat
    Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan Indonesia (P-DPLK) atau dikenal dengan Asosiasi DPLK pertama kali berdiri pada tahun 1997 sebagai organisasi…
    Read more