KAFE PENSIUN merupakan e-news Asosiasi DPLK yang terbit setiap 3 bulan sekali. Sebagai sarana untuk memberikan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun dan dana pensiun lembaga keuangan kepada masyarakat dan generasi milenial. Silakan mengirimkan berita, aktivitas dan foto terkait DPLK dan dana pensiun ke Redaksi KAFE PENSIUN via email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Bertajuk "Tantangan Ekonomi dan Investasi Tahun 2020-2021 serta Strategi bagi Peserta Dana Pensiun", Perkumpulan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) hari ini menggelar seminar daring investasi dana pensiun melalui zoom video conference.  Acara yang dibuka Nur Hasan Kurniawan, Ketua Umum PDPLK ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Adler H. Manurung sebagai Professor Banking and Finance - Doctor of Research in Management Bina Nusantara University. Bertindak sebagai moderator Daneth Fitrianto, Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Perkumpulan DPLK.

 

Diikuti 105 peserta, seminar daring ini bertujuan untuk menambah wawasan terkait kondisi ekonomi dan antisipasi aspek investasi dana pensiun di masa pandemi Covid-19. Karena secara realistis, wabah Covid-19 telah menciptakan guncangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Konsekuensinya menimbulkan tantangan yang besar terhadap kondisi ekonomi nasional, di samping perlunya langkah antisipatif terhadap persoalan investasi termasuk di sektor dana pensiun. 

 

“Akibat Covid-19 ini diprediksikan pertumbuhan ekonomi akan negatif di beberapa wilayah di Indonesia. Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum Covid-19 tadinya 5,3% menjadi 1,4% di tahun 2020 ini. Karena ada guncangan di penawaran dan permintaan pasar. Maka kondisi ini harus diantisipasi oleh pelaku industri termasuk dana pensiun” ujar Prof. Adler dalam pemaparannya.

 

Lebih lanjut lagi, Adler menyatakan ada banyak sektor ekonomi yang terdampak Covid-19. Maka strategi investasi yang bisa dilakukan adalah “beli dan tahan” dalam situasi sekarang. Untuk itu, pola investasi harus memperhatikan aspek-aspek seperti: jangka waktu, mengenali profil peserta dana pensiun, mengelola risiko, memperhatikan special requirement, dan pajak yang diberlakukan di investasi.

 

Seminar daring investasi dana pensiun ini merupakan seminar seri ke-2 yang digelar Perkumpulan DPLK sebagai antisipasi terhadap kondisi pandemi Covid-19. Agar pelaku dana pensiun, khususnya DPLK dapat mengelola dengan baik aspek investasi di DPLK. Sehingga tidak berdampak negatif terhadap peserta DPLK.  

 

“Perkumpulan DPLK berharap dengan seminar daring ini, upaya edukasi kepada peserta DPLK dapat dilakukan terus-menerus. Karena di balik Covid-19 ini ada hikmah bagi pelaku DPLK agar meningkatkan pelayanan kepada peserta, di samping edukasi soal investasinya” kata Nur Hasan Kurniawan di sela acara.

 

Wabah Covid-19, mau tidak mau, telah memberikan tantangan ekonomi dan investasi yang perlu diantisipasi. Karena itu, pelaku DPLK harus memperkuat edukasi dan sinergi bersama peserta DPLK. Agar ekspektasi peserta tetap dapat dipelihara… #YukSiapkanPensiun #DPLK

Wabah Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga. Tidak terkecuali industri dana pensiun di Indonesia. Seperti datangnya tidak terduga, masa berakhirnya Covid-19 di Indonesia pun tidak ada yang tahu. Kebijakan dan atensi pun terus dijalankan, termasuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang berujung pelarangan mudik. Ekonomi lesu an kini tidak kurang 2 juta pekerja dirumahkan atau di-PHK. Maka siapapun, perlu introspeksi diri. Untuk selalu siap antisipasi dan selalu punya harapan ke depannya.

 

Dampak Covid-19 yang patut dicermati, maka diperkirakan di tahun 2020 ini ekonomi global turun -3% akibat adanya lockdown besar-besaran. Sementara ekonomi Indonesia diprediksi hanya tumbuh 0.5%. Secara umum pasar akan pulih dalam jangka waktu menengah/panjang.  Begitulah simpulan acara “WFH Webinar Pension #1 Series” yang digelar Perkumpulan DPLK (Dana Penisun Lembaga Keuangan) dan ADPI (Asosiasi Dana Pensiun Indonesia) hari ini (4/05/20) melalui Zoom Video Conference yang diikuti 320 peserta. Tema yang dipilih “Antisipasi Dampak & Harapan Industri Dana Pensiun Pasca Covid-19”.

 

Seminar daring pertama industri dana pensiun ini dibuka oleh Nur Hasan Kurniawan (Ketua PDPLK) dan Suheri Lubis (Ketua ADPI). Dengan opening speech disampaikan oleh M. Ikhsanuddin (Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK)  dan pembicara terdiri dari; 1) Alan T. Darmawan, CEO Eastspring Investments, 2) Mudjiharno, Dapen BRI pelaku Dana Pensiun PPMP, dan 3) Saktimaya Murti, DPLK BNI pelaku DPLK PPIP. 

“Saya apresiasi acara webinar pension ini. Sangat bagus dan bisa jadi informasi yang bergunan. Intinya di tengah wabah Covid-19 ini, memang kita mengalami pelambatan. Tapi semua dampaknya harus diantisipasi dan harapan ke depan pasti ada. Di balik keulitan pasti ada kemudahan” ujar M. Ikhsanuddin saat memberikan opening speech.

Dimoderatori oleh Syarifudin Yunus (Direktur Eksekutif PDPLK), webinar pension ini menegaskan industri dana pensiun di Indonesia tetap peduli dan terus berkonsolidasi untuk mengantisipasi dampak wabah Covid-19, di samping bersama-sama membangun harapan ke depan yang lebih baik pasca wabah Covid-19 usai di Indonesia.

  

Maka Mudjiharno, Dirut Dapen BRI menegaskan salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengelola likuiditas secara prudent agar dana pension dapat memenuhi kewajiban dalam 6-12 bulan ke depan dan menunda Capex yang berdampak langusng terhadap pendapatan. 

 

Di sisi lain, Saktimaya Murti, PLT DPLK BNI menyampaikan potensi pasar dana pension masih sangat besar. Untuk itu, industri DPLK khusunya harus tetap optimis dan regulator perlu memberikan relaksasi seperti investasi maksimal 20% perpihak atau threshold pajak pensiun dinaikan dari >50jt menjadi >200jt. 

 

Di penghujung webinar pension, Andra Sapta (Direktur Pengawasan Dana Pensiun IKNB OJK) menegaskan bahw pentingnya pelaku dana pension untuk mengkalkulasi risiko akibat wabah Covid-19, di samping perlu evaluasi terhadap tata kelola yang selama ini dilakukan. Hal ini pula diperkuat oleh Steven Tanner (aktuaris independen) yang menyatakan wabah Covid-19 ini bisa jadi momentum untuk meningkatkan pelayanan terbaik pelaku DPLK kepada peserta sambil melihat portofolio investasi nasabah seperti apa?

 

Wabah Covid-19 memang tidak terduga. Tapi Langkah antisipasi harus tetap dilakukan. Harapan pun harus terus dibangun. Karena cepat atau lambat, badai pasti berlalu. Itulah komitmen industru dana pensiun…. #YukSiapkanPensiun

Dalam rangka pengisian jabatan Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan, kami mengundang seluruh warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti:

“Seleksi Calon Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan Periode 2020 – 2023 ”

Informasi dan dokumen selengkapnya dapat di dilihat pada brosur ini. Terima kasih.

Dalam rangka pengisian jabatan Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan, kami mengundang seluruh warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti:

“Seleksi Calon Pengurus Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Terintegrasi di Sektor Jasa Keuangan Periode 2020 – 2023 ”

Informasi dan dokumen selengkapnya dapat di dilihat pada brosur ini. Terima kasih.

Oleh: Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun Asosiasi DPLK

 

Kenapa Anda perlu merencanakan masa pensiun?

Tentu, ada banyak argumen untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi faktanya, 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun. Bahkan 93% pekerja menyatakan tidak tahu akan seperti apa di masa pensiun. Alhasil di Indonesia, riset menunjukkan 73% pensiunan mengalami masalah keuangan. Realitas pensiunan di Indonesia semacam itu terjadi. Akibat tidak adanya perencanaan masa pensiun para pekerja.

 

Hampir semua orang yang berpendidikan tinggi, pasti ujung-ujungnya ingin bekerja. Bekerja dari level rendah hingga mencapai karier puncaknya. Puluhan tahun waktu dihabiskan untuk bekerja. Sambil menikmati upah yang diterima setiap bulan. Tapi kenyataannya, riset membuktikan hanya 9% pensiunan alias pekerja yang benar-benar sejahtera di masa pensiun. Sementara 91% lainnya, masih tetap bekerja di usia pensiun atau menggantungkan hidupnya di hari tua pada anak-anaknya.

 

Good worker harus tahu. Bahwa di Indonesia saat ini. Usia harapan hidup orang Indonesia telah beranjak menjadi 72 tahun. Artinya apa? Bila seseorang pekerja pensiun di usia 55 tahun, maka masih ada 17 tahun masa kehidupan setelah pensiun.  Sementara indeks biaya hidup di masa pensiun mencapai 70%-80% dari gaji terakhir. Itu berarti, bila gaji terakhir Rp. 10.000.000 maka tingkat penghasilan pensiun (TPP) yang dibutuhkan di hari tua berkisar di antara Rp. 7.000.000 s.d. Rp. 8.000.000 per bulan. Bila keadaannya sudah tidak bekerja lagi, maka dari mana uang yang dibutuhkan di masa pensiun itu diperoleh? 

 

Maka suka tidak suka, siapapun orangnya, perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba. Jangan sampai masa bekerja jaya tapi masa pensiun merana. 

 

"Urusan pensiun mah nanti saja, kan gaji yang ada hanya cukup untuk biaya hidup” begitu kata seorang pekerja. Tapi ada pekerja yang lain bilang "saya menyesal sekarang, karena dulu saat bekerja tidak mau menabung untuk masa pensiun?" Itulah kenyataannya, masa pensiun kadang seperti “buah simalakama”. Di satu sisi, gaji sering habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pensiunan yang menyesal karena lalai merencanakan masa pensiun yang sejahtera. Intinya, setiap pekerja harus punya sikap terhadap masa pensiunnya sendiri. Mau seperti apa, kau kayak apa?

 

Lalu, bagaimana cara jitu merencanakan masa pensiun?

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Karena DPLK merupakan program pengelolaan dana pensiun yang dirancang untuk mempersiapkan jaminan finansial di masa pensiun. Program yang didedikasikan untuk pembayaran manfaat pensiun bagi setiap pekerja. Melalui DPLK, setiap pekerja dapat menyetorkan sejumlah uang secara rutin setiap bulan. Sebagai perencanaan masa pensiun dan hanya dapat dicairkan ketika memasuki usia pensiun.

 

DPLK, tentu bukan asuransi jiwa. DPLK pun bukan reksadana. Tapi intinya, DPLK dirancang untuk menyiapkan masa pensiun yang sejahtera. Karena DPLK bertumpu pada pengelolaan program pensiun iuran pasti (PPIP) dan orientasinya untuk hari tua atau masa pensiun. Agar tersedia dana yang cukup untuk membiayai pensiunan di hari tuanya, di saat tidak bekerja lagi.

 

Ada tiga manfaat DPLK yang luar biasa sebagai program pensiun, yaitu: 

1. Ada pendanaan yang pasti untuk masa pensiun melalui iuran yang disetor secara bulanan, tentu semakin besar iurannya semakin optimal uang pensiunnya.

2. Ada hasil investasi yang diperoleh selama menjadi peserta DPLK sehingga dana berkembang secara optimal karena bersifat jangka panjang.

3. Ada fasilitas perpajakan yang diperoleh saat manfaat pensiun dibayarkan ketika pensiun, yang tidak diperoleh bila tidak melalui DPLK.

 

Maka melalui DPLK, setiap pekerja akan dapat memperoleh manfaat pensiun yang luar biasa. Besar kecilnya uang pensiun yang diterima dari DPLK sangat bergantung pada besarnya iuran yang disetorkan – hasil investasi – lamanya kepesertaan. Semakin lama menjadi peserta DPLK maka semakin besar manfaat pensiun yang diterima.

 

Jadi, sudahkah Adna merencanakan masa pensiun? 

Bila tidak sekarang, lalu kapan lagi? Kerja Yes, Pensiun Oke.

Di era digital yang kian transparan, nasabah apapun menuntut professionalisme dan layanan terbaik suatu produk. Tidak terkecuali produk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sebagai alternatif pendanaan untuk meraih masa pensiun yang sejahtera.

 

Maka untuk itu, Asosiasi DPLK pun telah menerapkan “Sertifikasi DPLK” yang ditujukan kepada para tenaga pemasar dan staf di unit kerja DPLK manapun, bank atau asuransi jiwa termasuk para mitra di bidang investasi, agen, maupun finance. Tujuannya, agar tercipta standar kompetensi tenaga pemasar dan staf dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pengelola dana pensiun lembaga keuangan. Untuk menjaga prinsip profesionalisme dan standar mutu layanan kepada nasabah. Agar nasabah tidak dirugikan di kemudian hari.

 

Berangkat dari spirit dan komitmen itulah, Asosiasi DPLK sebagai lembaga yang mengkoordinasikan 27 pelaku DPLK di Indonesiamenggelar “Ujian Sertifikasi DPLK” batch 8 yang diikuti 11 peserta dati 4 DPLK dan 1 konsultan pajak. Ujian berlangsung Classroom Asosiasi DPLK di Wisma Bumiputera Jakarta (24/1/2020). 

 

“Asosiasi DPLK menggelar ujian sertifikasi DPLK tiap 3 bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memacu standar kompetensi berupa pengetahuan, keterampilan dan keahlian para tenaga pemasar dan staf yang bekerja di unit bisnis DPLK. Agar mampu melayani secara professional para nasabah DPLK” ujar Syarifudin Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK.

 

Sertifikasi DPLK diselenggarakan secara rutin setiap bulan Januari-April-Juli-Oktober (4 kali setahun) yang dapat diikuti tenaga pemasar dan staf yang ada di unit bisnis DPLK atau pihak lain yang berhubungan dengan bisnis DPLK. Hingga saat ini, tidak kurang 300 orang telah tersertifikasi DPLK yang mencakup modul 1) pengetahuan dasar dan pemasaran, 2) operasional dan bisnis proses, 3) investasi, dan 4) regulasi dan risk.

 

Sertifikasi DPLK meruapakan impelmentasi prinsip perilaku profesional dan kompetensi anggota Asosiasi DPLK dalam menjalankan amanat POJK No.1/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, di samping memastkan berjalannya POJK 15/2019 tentang Tata Kelola Dana Pensiun. 

 

Sertifikasi DPLK sebagai bagian sertifikasi profesi tentu sangat penting. Agar tidak terjadi kesalahan dalam penualan DPLK, termasuk untuk mengotimalkan pengetahuan nasabah tentang manfaat DPLK itu sendiri. Karena hakikatnya, DPLK sangat penting sebagai bagian perencaaan masa pensiun yang sejahtera, saat tidak bekerja lagi. Karena dengan DPLK, setiap pekerja memiliki manfaat: 1) punya pendanaan yang pasti untuk hari tua, 2) memperoleh hasil investasi yang lumayan, dan 3) mendapat fasilitas perpajakan.

 

Untuk diketahui, hingga November 2019, industri DPLK telah mengelola aset lebih dari Rp 92 triliun dengan jumlah peserta mencapai 3,3 juta pekerja. Oleh karena itu, Asosiasi DPLK akan terus aktif melakukan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun, di samping menjadikan sertifikasi DPLK sebagai standar profesi. Agar masyarakat lebih mudah, lebih tertaik dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri …..

 

Dan pastikan, tenaga pemasar dan staf-nya yang bekerja di DPLK sudah tersertifikasi… #YukSiapkanPensiun #SertifikasiDPLK #AsosiasiDPLK

KAFE PENSIUN merupakan e-news Asosiasi DPLK yang terbit setiap 3 bulan sekali. Sebagai sarana untuk memberikan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun dan dana pensiun lembaga keuangan kepada masyarakat dan generasi milenial. Silakan mengirimkan berita, aktivitas dan foto terkait DPLK dan dana pensiun ke Redaksi KAFE PENSIUN via email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Page 3 of 4
Hubungi Kami
Wisma Bumiputera, 2nd Floor, Suite 205 Jl. Jend. Sudirman Kav. 75
DKI Jakarta 12910
Indonesia
Phone: 021 - 5713007
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Tentang Kami

  • Sejarah Singkat
    Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan Indonesia (P-DPLK) atau dikenal dengan Asosiasi DPLK pertama kali berdiri pada tahun 1997 sebagai organisasi…
    Read more