Sebagai upaya antisipasi terhadap tantangan industri dana pensiun, Asosiasi DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) memggelar Workshop Pemasaran dan Edukasi DPLK pada 9-10 Desember 2021 di Bandung. Seiring era digital dan perubahan sektor kehidupan yang begitu cepat, maka cara-cara pemasaran dan edukasi tidak bisa biasa-biasa lagi. Digitaliasasi program pensiun pun menjadi hak yang mutlak.
Dibuka oleh Novianto Utomo (Kabag Pengawasan IKNB 2 OJK Regional Jabar) dan Nur Hasan Kurniawan (Ketua Umum Asosiasi DPLK) dan diikuti 47 peserta dari 21 DPLK di Indonesia, workshop ini menekankan pentingnya fokus pelaku DPLK dalam antisipasi kebutuhan program pensiun pekerja, di samping digitalisasi untuk memenuhi kebutuhan program pensiun masyarakat. Agar industri DPLK punya kesamaan persepsi terkait isu-isu pemasaran, digitalisasi, dan edukasi DPLK di Indonesia.
Patut disadari, selama ini industri DPLK menjalankan program pemasaran dan edukasi secara “mengalir” sMdan normatif saja. Maka ke depan, harus ada terobosan baru yang “menyentuh hati” pekerja dan pemberi kerja akan pentingnya program pensiun. Sehingga industri DPLK tumbuh secara signifikan.
Bertindak sebagai pembicara, antara lain: Firmansyah (Pemasaran), Donny Lesmana (Digitalisasi), Syarifudin Yunus (Edukasi), Steven Tanner (Pengawas ADPLK) dan Herfinia (DPLK BJB), workshop ini diharapkan bisa jadi momentum bersama pelaku industri DPLK di Indonesia untuk mereposisi pemasaran dan edukasi DPLK secara lebih digital. Agar masyarakat lebih mudah mengakses kebutuhan DPLK.
“Kami di DPLK menyadari bahwa pemasaran dan edukasi adalah “roh” dari maju tidaknya industri dana pensiun. Melalui workshop ini seluruh pelaku DPLK berkumpul dan membahas isu-isu penting di DPLK. Agar tercapai kesamaan persepsi, setelah itu bisa dieksekusi bersama untuk pertumbuhan DPLK” ujar Nur Hasan Kurniawan, Ketua Umum ADPLK dalam sambutannya.
Perlu diketahui, industri DPLK mengelola aset lebih dari Rp. 109 trilyun per September 2021dan melayani lebih dari 3 juta pekerja. Sementara dengan potensi pasar yang masih besar, mencapai 50 juta pekerja formal dan sekitar 70 juta pekerja informal, maka sangat diperlukan adanya terobosan baru dalam pemasaran dan edukasi DPLK, termasuk antisipasi RUU P2SK yang tengah digodok pemerintah.
Dalam nuansa kebersamaan, workshop Asosiasi DPLK kali ini pun memperkenalkan masing-masing DPLK sebagai bagian menjaga soliditas industri DPLK. Untuk lebih optimal melayani kebutuhan program pensiun masyarakat. Karena itu, edukasi DPLK harus dilakukan secara lebih nasif dan berkelanjutan. Agar DPLK dapat menjangkau untuk semua pekerja dan masyarakat yang mendambakan masa pensiun yang sejahtera.
Industri DPLK meyakini, tidak ada tantangan yang tidak bisa dipecahkan. Tidak pula ada sukses yang tidak diusahakan. Seberapapun hasilnya, aspek pemasaran, digitalisasi, dan edukasi adalah poin penting yang harus terus dioptimalkan industri DPLK ke depan, menyongsong tahun 2022 dan meredanya pandemi Covid-19. #YukSiapkanPensiun #PDPLK #SadarPensiun